» Fikih Qurban

Disusun oleh : Dr. H. Agus Setiawan, Lc, Ma

Taujih Rabbani
Firman Allah Swt. tentang kurban terdapat pada Qur’an Surat Al Kautsar ayat ke 2 :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [١٠٨:٢]

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al-Kautsar : 2]

 

yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukil dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534)

 

Pengertian
Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut. (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

 

Keutamaan

  1. Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama
  2. Menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi saw. (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

 

Dalil tentang Keutamaan Qurban
‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.”  (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

 

Hukum Qurban

  1. Pertama: Wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad beserta beberapa ulama pengikut Imam Malik, Imam Ibnu Taimiyah.Dalil yang mendaasari pendapat pertama adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672).
  2. Pendapat kedua menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain.Dalil yang mendasari pendapat kedua adalah hadits dari Abu Mas’ud Al Anshari ra. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).
    Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih)
    Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (Al Muhalla, Ibnu Hazm 5/295)

 

Jenis Hewan Qurban

 

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ [٢٢:٣٤]

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”
[Qur’an Surat Al-Hajj : 34]

Dalam bahasa arab, yang dimaksud Bahiimatul al An’aam hanya mencakup tiga binatang yaitu onta, sapi atau kambing saja.
Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah 2/2975)

 

Usia Hewan Qurban
Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)
Jumhur ulama memaknai hadis di atas sebagai anjuran dan bukan kewajiban.  (Syarh Shahih Muslim An Nawawi 6/456)

 

Cacat Hewan Qurban

  1. Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4 :
    • Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya
    • Sakit dan jelas sekali sakitnya
    • Pincang dan tampak jelas pincangnya
    • Sangat tua
  2. Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2
    • Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
    • Tanduknya pecah atau patah
  3. Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban) namun kurang sempurna tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung

 

Contoh Qurban Rasulullah Saw.

  1. Hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, “Pernah Rasulullah saw menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih)
  2. Nabi saw mengatakan: “Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349)

Diperbolehkan Kongsi dalam Berkurban
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536)

 

Pandangan Pentingnya Ibadah Qurban
Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)

Qurban untuk Orang yang Telah Meninggal

  1. Diperbolehkan, jika orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, “Pernah Rasulullah saw menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih)
  2. Tidak diperbolehkan, jika berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit
  3. Diperbolehkan, jika berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah mewasiatkan