» Syariat Qurban

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ [٢٢:٣٤]

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”
[Qur’an Surat Al-Hajj : 34]

1. Syariat Qurban di Masa Nabi Adam as.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [٥:٢٧]

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”
[Qur’an Surat Al-Maidah : 27]

Allah swt memerintahkan Adam as menikahkan anak-anaknya, yaitu Qabil dengan Lubuda, dan Habil dengan Iqlima. Namun Qabil menolak perintah tersebut, sedangkan Habil menerimanya. Adam as memerintahkan Qabil dan Habil untuk berkurban. Siapa yang kurbannya diterima oleh Allah swt, dialah yang berhak menikahi Iqlima yang cantik rupawan.

Habil berkurban dengan kambing Qibas putih, bermata bundar, dan bertanduk mulus, diikuti dengan jiwa yang bersih. Sedangkan Qabil berkurban dengan makanan yang jelek serta niat yang tidak baik. Kurban-kurban tersebut diletakkan di atas gunung. Akhirnya kurban milik Habil dilalap oleh api yang tiba-tiba datang dari langit sebagai pertanda kurban tersebut diterima oleh Allah swt.

2.  Syariat Qurban di Masa Nabi Ibrahim as.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ [٣٧:١٠٢

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
[Qur’an Surat Ash-Shoffat : 102]

Suatu hari, Ibrahim as bermimpi. Di dalam mimpinya, ia mendengar Allah swt memerintahkan dirinya untuk menyembelih putera kesayangannya, Ismail. Dalam keraguannya, ia pun membawa anaknya Ismail ke sebuah bukit. Ia pun menceritakan perintah Allah swt yang sangat berat tersebut kepada Ismail. Kesholehan Ismail tampak dengan menerima perintah Allah swt tersebut, dan mempersilahkan Ibrahim as untuk menunaikannya.
Namun ketika Ibrahim as hampir saja menyembelih anaknya sendiri, Allah swt merubah rencana tersebut dengan drastis.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ [٣٧:١٠٣] وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ [٣٧:١٠٤] قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ [٣٧:١٠٥] إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ [٣٧:١٠٦]وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ [٣٧:١٠٧]

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
[Qur’an Surat Ash-Shoffat : 103 – 107]

3. Syariat Qurban Nabi Muhammad Saw

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [٢٢:٣٦]

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”
[Qur’an Surat Al-Hajj : 36]

Pada peristiwa Haji Wada di Mina setelah shalat Idul Adha, Rasulullah Saw menyembelih 100 ekor unta. Beliau menyembelih sendiri 70 ekor di antaranya, dan sisanya disembelih oleh Ali bin Abi Thalib ra. Dalam ayat di atas, dapat diambil keterangan jenis hewan yang dapat dikurbankan, tujuan dan cara menyembelih hewan kurban, serta siapa saja yang diperbolehkan mengkonsumsi daging kurban.